Loading
Logo
Beranda Tentang

Apakah Anonimitas Membuat Kita Menjadi Lebih Jahat?

Teknologi
11 Aug 2026
22 dilihat
Apakah Anonimitas Membuat Kita Menjadi Lebih Jahat?

Pernah membaca komentar di internet yang begitu kasar sampai kita berpikir, “Kalau ngomong langsung, berani nggak ya?”

Seseorang yang terlihat biasa saja dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi sangat agresif ketika berada di balik username. Ia bisa menghina orang asing, menyerang pendapat orang lain, atau mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah ia ucapkan ketika berhadapan langsung.

Fenomena ini bukan sekadar kesan pengguna internet. Psikologi telah lama mempelajari mengapa seseorang dapat berperilaku berbeda ketika berinteraksi secara online. Salah satu konsep yang terkenal adalah online disinhibition effect, yaitu kondisi ketika hambatan sosial seseorang berkurang sehingga ia lebih bebas mengungkapkan pikiran atau melakukan sesuatu secara online.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih menarik. Apakah anonimitas membuat kita menjadi lebih jahat?

Ketika Nama Kita Menghilang

Dalam kehidupan nyata, identitas hampir selalu mengikuti kita. Ketika berbicara dengan seseorang, kita membawa nama, wajah, suara, reputasi, dan hubungan sosial. Jika kita mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kita bisa langsung melihat ekspresi orang tersebut. Ia mungkin diam, marah, atau terlihat sedih. Kita harus menghadapi reaksinya.

Internet mengubah situasi tersebut. Kita bisa berada di balik suatu akun.Tidak ada wajah. Tidak ada kontak mata. Tidak ada suara. Dan terkadang tidak ada orang di sekitar kita yang mengetahui bahwa komentar tersebut berasal dari kita. Jarak antara tindakan dan konsekuensi sosial menjadi lebih besar. Namun, masalahnya bukan hanya anonimitas.

Bukan Sekadar Anonim

Psikolog John Suler menjelaskan bahwa online disinhibition dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk dissociative anonymity, invisibility, asynchronicity, solipsistic introjection, dissociative imagination, dan minimization of authority. Salah satunya adalah dissociative anonymity, ketika identitas online sulit dihubungkan dengan identitas dunia nyata, seseorang dapat merasa lebih terpisah dari tindakannya.

Bandingkan dua situasi. Kamu mengatakan, “Kamu bodoh,” secara langsung. Orang tersebut melihat wajahmu dan kamu melihat reaksinya. Sekarang kalimat yang sama diketik menggunakan akun anonim. Secara teknis, kalimatnya sama. Namun pengalaman psikologisnya bisa berbeda karena konsekuensi sosial terasa lebih jauh.

Penelitian eksperimental juga menemukan bahwa anonimitas, invisibility, dan tidak adanya kontak mata dapat memengaruhi toxic online disinhibition dan perilaku flaming.

“Mereka Tidak Bisa Melihat Saya”

Ada perbedaan antara anonymous dan invisible. Kita tidak harus benar-benar anonim untuk merasa tidak terlihat.

Ketika berkomentar di internet, kita tidak melihat ekspresi, gestur, atau intonasi lawan bicara. Yang kita lihat mungkin hanya tombol:

Send.

Padahal komunikasi tatap muka memberikan feedback sosial secara terus-menerus. Kita berbicara, orang lain bereaksi, kemudian kita menyesuaikan diri.

Di internet, siklus tersebut menjadi lebih lemah. Ditambah lagi, komunikasi online sering bersifat asynchronous. Kita dapat menulis sesuatu sekarang dan baru menerima respons beberapa jam kemudian.Kita tidak perlu langsung menghadapi wajah orang yang membaca kata-kata kita.

Anonimitas Tidak Selalu Membuat Kita Jahat

Ini bagian yang sering dilupakan. Anonimitas juga dapat membuat seseorang lebih berani melakukan hal yang positif.

Orang yang pemalu mungkin lebih mudah berbicara. Seseorang yang takut dihakimi bisa menceritakan masalah pribadi. Orang lain mungkin menggunakan identitas anonim untuk mencari bantuan atau bergabung dengan komunitas.

Penelitian University of Queensland terhadap lebih dari 1.300 peserta menunjukkan bahwa orang mencari anonimitas online karena berbagai alasan, termasuk self-expression maupun perilaku antisosial.

Jadi anonimitas bukan tombol:

ON → menjadi jahat

Lebih tepat jika kita melihatnya sebagai sesuatu yang dapat mengurangi hambatan sosial dalam dua arah.

 

Karena itu, istilah disinhibition lebih tepat daripada mengatakan bahwa seseorang menjadi “jahat”.

Apakah Internet Mengeluarkan Sifat Asli Kita?

Kita mungkin berpikir, “Kalau seseorang kasar ketika anonim, berarti itulah dirinya yang sebenarnya.”

Belum tentu.

Seseorang dapat berperilaku berbeda dalam lingkungan yang berbeda. Di dunia nyata, reputasi dan konsekuensi sosial mungkin membuatnya lebih berhati-hati. Di internet, sebagian hambatan tersebut dapat berkurang. Jadi orang yang sopan di dunia nyata dan kasar di internet tidak harus berarti salah satunya palsu. Konteks berubah. Perilaku pun dapat berubah.

Kemudian Muncul Masalah Teknologi

Internet bukan hanya tempat manusia berbicara. Internet adalah sistem yang dirancang. Ada like, reply, share, notification, ranking, recommendation, dan berbagai mekanisme lain yang menentukan bagaimana perhatian diberikan.

Bayangkan seseorang membuat komentar provokatif.

  • Komentar tersebut mendapat 10 likes.
  • Kemudian 100.
  • Kemudian 1.000.

Ia mendapatkan perhatian. Komentarnya semakin terlihat. Orang lain ikut membalas.

Terbentuklah sebuah feedback loop:

Ini bukan berarti setiap platform sengaja membuat penggunanya kasar. Namun desain platform dapat memengaruhi perilaku dengan menentukan apa yang mendapatkan perhatian dan bagaimana pengguna menerima social reward.

Bahkan lingkungan komunitas dapat membentuk norma baru. Jika komentar kasar terus mendapatkan respons dan dianggap normal, perilaku yang awalnya terasa ekstrem bisa perlahan menjadi biasa.

Pertanyaannya kemudian berubah:

Bukan hanya “Mengapa orang ini kasar?” tetapi “Lingkungan seperti apa yang membuat perilaku ini terasa normal?”

Jadi, Apakah Anonimitas Membuat Kita Lebih Jahat?

Mungkin jawabannya adalah tidak secara langsung.

Anonimitas tidak menciptakan kejahatan dari nol. Namun ketika anonimitas digabungkan dengan invisibility, tidak adanya kontak mata, komunikasi yang tidak sinkron, rendahnya akuntabilitas, norma komunitas, dan desain platform, sebagian orang dapat menjadi lebih berani melakukan sesuatu yang mungkin akan mereka tahan dalam kehidupan nyata.

Dan anonimitas memiliki dua sisi.

Ia dapat membuat seseorang berkata:

“Aku akhirnya berani menceritakan sesuatu yang selama ini tidak bisa kukatakan.”

Tetapi juga:

“Tidak ada yang tahu ini aku, jadi aku bisa mengatakan apa saja.”

Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Apakah anonimitas membuat kita menjadi lebih jahat?”

Melainkan:

“Siapa diri kita ketika konsekuensi sosial menghilang?”

Tantangan internet mungkin bukan sekadar membuat manusia tetap terhubung, tetapi merancang teknologi yang memungkinkan manusia tetap bertanggung jawab ketika mereka merasa tidak terlihat.

Referensi

  • Suler, J. (2004). The Online Disinhibition Effect. CyberPsychology & Behavior. Paper
  • Lapidot-Lefler, N., & Barak, A. (2012). Effects of anonymity, invisibility, and lack of eye-contact on toxic online disinhibition. Computers in Human Behavior. ScienceDirect
  • Nitschinsk, L., et al. (2023). Why Do People Sometimes Wear an Anonymous Mask? PubMed
  • Cheng, J., et al. (2015). Antisocial Behavior in Online Discussion Communities. arXiv
  • Blumer, & Kleinberg. (2025). Tracking patterns in toxicity and antisocial behavior over user lifetimes. Scientific Reports. Nature

Ceritra Bot
Online